Skip to main content
Ilustrasi perbandingan alur ujian kompetensi dan ujian akhir pada aplikasi CBT kampus

Ujian Kompetensi vs Ujian Akhir: Beda Alur di Aplikasi CBT

• 5 min • 933 words

Banyak kampus menyebut keduanya “ujian online”, padahal ujian kompetensi dan ujian akhir mata kuliah punya alur yang berbeda jauh. Satu menguji kemampuan lintas mata kuliah di tingkat program studi, yang lain menguji penguasaan satu mata kuliah di tingkat kelas. Aplikasi yang memperlakukan keduanya sama biasanya akan terasa janggal di salah satunya.

Artikel ini membandingkan kedua alur itu, dengan contoh dari PurwaExam, aplikasi ujian berbasis komputer yang kami bangun untuk sebuah perguruan tinggi negeri (nama disamarkan atas permintaan pihak terkait). Gambaran fitur ujian secara umum ada di fitur wajib aplikasi ujian online untuk kampus.

Ringkasan Perbedaan

AspekUjian KompetensiUjian Akhir
CakupanSatu program studiSatu kelas mata kuliah
Dibuat olehAdmin pusat atau operator program studiDosen pengampu kelas, atau admin pusat
PesertaMahasiswa yang didaftarkan ke sebuah pelaksanaan (batch)Mahasiswa yang terdaftar di kelas
Jumlah sesiBanyak, mengikuti nomor sesi tiap rumpun mata kuliahSatu
Sumber soalSeluruh soal pada capaian pembelajaran terkaitHanya soal buatan dosen pengampu kelas
Keputusan kelulusanSetelah semua sesi selesai, dari skor gabunganLangsung setelah sesi tunggal selesai dinilai
Penutupan pasca-periodeMengunci pelaksanaan (batch)Mengunci paket ujian

Ujian Kompetensi: Satu Prodi, Banyak Sesi

Ujian kompetensi dirancang berlapis. Mata kuliah dikelompokkan ke dalam rumpun, dan setiap rumpun diberi nomor sesi. Paket ujian kompetensi kemudian membuat satu sesi untuk setiap nomor sesi yang berbeda di program studi itu, berurutan dari yang terkecil.

Alurnya secara garis besar:

  1. Admin atau operator menyusun struktur: program studi, rumpun (lengkap dengan nomor sesi), mata kuliah, dan capaian pembelajaran.
  2. Soal masuk ke bank soal per capaian pembelajaran.
  3. Paket ujian kompetensi dibuat, dan sesinya terbentuk otomatis mengikuti nomor sesi rumpun.
  4. Setiap sesi diisi komponen: capaian pembelajaran, jumlah soal, dan bobot. Paket baru bisa diaktifkan bila total bobot sesuai target skor.
  5. Batch dibuat sebagai satu kali pelaksanaan paket, misalnya “Batch 1 Ganjil 2025/2026”. Peserta ditambahkan satu per satu atau diimpor dari CSV, dan akun mahasiswa yang belum ada dapat dibuat otomatis.
  6. Batch diaktifkan, lalu peserta mengerjakan sesi demi sesi.
  7. Setelah semua sesi selesai dinilai, skor digabung dan diputuskan lulus atau mengulang.
  8. Admin pusat mengunci batch setelah periode selesai, sehingga datanya hanya dapat dibaca dan diekspor.

Pemisahan paket dan batch adalah kunci. Paket berfungsi seperti templat soal yang dipakai ulang, sedangkan daftar peserta dan status kunci ada di batch. Mahasiswa yang perlu mengulang didaftarkan ke batch baru, dan skor lamanya tidak terbawa.

Ujian Akhir: Satu Kelas, Satu Sesi

Ujian akhir lebih sederhana. Dosen pengampu kelas membuat paket untuk kelasnya, dan sesi tunggal terbentuk otomatis. Komponen sesi menarik soal dari capaian pembelajaran mata kuliah itu, tetapi hanya dari soal buatan dosen pengampu kelas tersebut, sehingga soal dosen lain tidak ikut tertarik.

Peserta tidak perlu didaftarkan ke batch karena daftarnya sudah ada di kelas. Setelah paket aktif, mahasiswa kelas itu dapat mengerjakannya. Karena hanya satu sesi, keputusan lulus atau mengulang diambil segera setelah sesi selesai dinilai. Dosen dapat mengekspor hasil kelas ke Excel atau PDF, dan admin pusat dapat mengunci paket setelah periode berakhir.

Contoh Rekaan: Tiga Rumpun, Dua Sesi

Misalkan sebuah program studi punya tiga rumpun: A dan B bernomor sesi 1, serta C bernomor sesi 2. Paket ujian kompetensi program studi itu otomatis memiliki dua sesi. Sesi 1 menarik soal dari rumpun A dan B, sedangkan sesi 2 dari rumpun C.

Seorang mahasiswa mengerjakan sesi 1 lalu sesi 2 dalam batch yang sama. Skor kedua sesi dijumlahkan, lalu dibandingkan dengan nilai minimum paket. Bila totalnya memenuhi, kedua percobaannya ditandai lulus. Bila tidak, keduanya ditandai mengulang. Mahasiswa yang diikutkan lagi di batch berikutnya mulai dari nol.

Siklus Status Satu Percobaan

Pada kedua jenis ujian, percobaan peserta bergerak melalui status yang kurang lebih sama:

StatusArti
Sedang mengerjakanPeserta berada di layar ujian
Dinilai sistemJawaban sudah dikumpulkan, penilaian objektif berjalan
Menunggu dosenSoal objektif selesai, masih ada uraian yang belum dinilai
SelesaiSesi ini sudah dinilai penuh
Lulus atau MengulangDiputuskan setelah semua sesi dalam paket selesai

Pada ujian akhir, status “selesai” dan keputusan akhir hampir bersamaan karena hanya ada satu sesi. Pada ujian kompetensi, peserta bisa berstatus “selesai” di sesi 1 sambil menunggu sesi 2.

Mengapa Perbedaan Ini Penting Saat Memilih Aplikasi

Aplikasi ujian yang hanya mengenal “kuis dengan satu skor” akan kesulitan menangani kelulusan gabungan beberapa sesi, pelaksanaan berulang dengan peserta berbeda, dan pembatasan soal menurut pembuatnya. Beberapa pertanyaan yang layak diajukan kepada vendor:

  • Apakah ujian lintas beberapa sesi bisa digabung menjadi satu keputusan kelulusan?
  • Bagaimana pelaksanaan ulang ditangani tanpa membawa skor lama?
  • Apakah soal ujian akhir dapat dibatasi pada dosen pengampu kelas?
  • Siapa yang boleh membuat tiap jenis ujian dan siapa yang berwenang menguncinya?

Hal yang Perlu Diputuskan Sebelum Membangun

  1. Jenis ujian apa saja yang diselenggarakan kampus, dan siapa penanggung jawab masing-masing.
  2. Apakah ujian kompetensi terdiri dari beberapa sesi, dan bagaimana mata kuliah dikelompokkan ke tiap sesi.
  3. Nilai minimum kelulusan dan bagaimana skor gabungan dihitung.
  4. Kebijakan mengulang: jumlah kesempatan dan cara mendaftarkan ulang peserta.
  5. Sumber soal untuk tiap jenis ujian, terutama kerahasiaan soal dosen.
  6. Siapa yang mengunci data setelah periode ujian berakhir.

Langkah Berikutnya

Bila kampus Anda menyelenggarakan lebih dari satu jenis ujian dengan aturan berbeda, tuliskan dulu alur masing-masing sebelum memilih aplikasi. Kami dapat membahas ruang lingkupnya melalui layanan aplikasi web dan desktop dan LMS dan platform edukasi. Untuk sisi bank soalnya, baca bank soal ujian online: cara menyusun dan impor dari Excel, untuk faktor biaya, biaya aplikasi ujian online custom untuk kampus, dan untuk proses migrasinya, studi kasus migrasi PurwaExam ke Laravel dan Filament.

Beda ujian kompetensi dan ujian akhir di aplikasi CBT kampus: cakupan, peserta, sesi, sumber soal, dan penentuan kelulusan, dengan contoh dari PurwaExam.

Pelayanan

Butuh website atau aplikasi?

Sashindo Project membangun company profile, aplikasi web, LMS, dan otomasi Google Apps Script sesuai kebutuhan bisnis Anda.

Lihat layanan