Warangan dalam dunia perkerisan

Warangan dalam dunia perkerisan

Dengan tidak mengurangi rasa hormat, mohon ijin saya copy paste artikel ini

Warangan adalah bahan mineral yang mengandung unsur arsenikum. Selain digunakan sebagai bahan racun tikus, warangan juga dipakai untuk mengawetkan keris (Ensiklopedi Keris, 2011).

Fungsi warangan dalam dunia perkerisan ialah untuk mengawetkan bilah keris ataupun tombak agar tidak cepat rusak dan berkarat. Mewarangi keris juga tidak baik jika terlalu sering dilakukan, karena jika hal tersebut dilakukan maka bilah keris akan mudah keropos. Hal itu terjadi karena dalam larutan warangan juga mengandung zat asam yang berasal dari perasan air jeruk yang merupakan campuran dari bubuk warangan.

Pada tanggal 5 Desember 2016, di Sekolah Budaya Tunggulwulung Malang yang beralamatkan di jalan Sasando No. 9 Kota Malang diadakan pelatihan mewarangi keris, dimulai pukul 20.00 WIB sampai dengan pukul 22.30 WIB dengan nara sumber mas Wahyu Eko Setiawan atau dikenal juga dengan nama Ki Jagad Gumelar.

Sebelum mewarangi keris, terlebih dahulu keris dibersihkan (dalam dunia perkerisan diistilahkan dengan mutih, yaitu membersihkan keris hingga terlihat warna asli bilah keris dan terbebas dari segala kotoran maupun karat). Proses mutih keris ini umumnya dilakukan antara 3 sampai 5 hari, tergantung dari kondisi bilah keris, jika bilah keris sangat kotor dan berkarat maka proses mutih biasanya membutuhkan waktu lebih lama. Pada saat proses mutih bahan yang umum digunakan ialah campuran air kelapa yang sudah basi dan perasan jeruk nipis.

Kandungan zat asam pada kedua bahan tersebut bisa melarutkan kotoran-kotoran yang menempel pada permukaan bilah keris, tidak cukup direndam saja untuk membersihkan permukaan bilah keris juga memerlukan proses penyikatan. Sikat yang digunakan biasanya menggunakan sikat gigi yang berbulu lembut. Untuk jenis keris yang sudah tua, larutan pembersih yang digunakan sebaiknya yang bersifat natural yaitu dari campuran yang sudah disebutkan di atas.

Namun untuk jenis keris periode Kamardikan (yang usianya tidak terlalu tua, atau keris baru) bisa juga menggunakan campuran sabun colek (detergen) dengan perasan air jeruk nipis yang ditambahkan abu gosok, atau bisa jugaditambahkan larutan sitrun (biasanya untuk campuran minuman atau nutrijel) kemudian campuran beberapa bahan itu dikuaskan atau dioleskan pada permukaan bilah keris dan didiamkan beberapa saat setelah itu dibersihkan dengan sikat gigi secara perlahan sampai kotoran hilang dan warna asli bilah keris terlihat.

Walaupun teknik ini sangat cepat untuk membersihkan keris, namun menurut pendapat ahli perkerisan teknik ini tidak dianjurkan, apalagi untuk keris yang sudah berumur sangat tua, bisa menyebabkan bilah keris sangat rapuh dan keropos.

Adapun campuran larutan warangan terdiri dari air perasan jeruk nipis yang sudah disuling, yaitu sekitar 5 Kg jeruk nipis diperas, kemudian disaring. Teknik penyaringan biasanya menggunakan kain kaos. Jadi air perasan jeruk nipis disaring lagi menggunakan kain agar tidak tercampur dengan biji ataupun butiran-butiran jeruk nipis. Kemudian air perasan jeruk nipis yang telah disaring menggunakan kain itu didiamkan selama satu minggu.

Dalam rentang waktu satu minggu, maka terjadi pengendapan air jeruk nipis. Yang digunakan sebagai campuran serbuk warangan ialah larutan yang tidak mengendap. Takaran ideal untuk larutan warangan ialah 30 gram bahan warangan dicampur dengan 1 liter perasan jeruk nipis yang sudah dimurnikan. Setelah dicampur serbuk warangan, larutan kedua bahan tersebut akan berwarna coklat gelap, larutan ini siap digunakan untuk mewarangi keris.

Jika larutan warangan sudah siap langkah selanjutnya ialah menyiapkan tempat atau wadah untuk mewarangi keris. Pada masa lalu wadah untuk mewarangi keris biasanya terbuat dari batang bambu, namun sekarang bisa diganti dengan bahan yang lain, misalnya pipa paralon atau talang kotak yang terbuat dari plastik. Setelah larutan warangan dituang pada wadah tersebut, keris yang sudah bersih dimasukkan. Larutan warangan akan meresap kedalam pori-pori bilah keris sehingga terjadi gelembung-gelembung udara. Setelah gelembung-gelembung udara hilang bilah keris dibalik, dan setelah itu direndam sekitar lima menit lalu ditiriskan.

Cara meniriskan bilah keris ialah pangkal bilah keris yaitu pesi diletakkan pada bagian bawah dan ujung keris pada bagian atas. Setelah kering bila dirasa warna bilah keris kurang hitam (masih kecoklatan) bilah keris bisa dimasukkan lagi kedalam larutan warangan dengan cara yang sama pada proses awal tadi dan selanjutnya ditiriskan kembali hingga kering, jika tingkat kegelapan atau kehitaman keris dirasa sudah cukup dan pamor memiliki tingkat kekontrasan yang dirasa cukup maka proses selanjutnya ialah mencuci bilah keris dengan air yang mengalir dan tahap terakhir ialah membersihkan sisa-sisa warangan yang tidak diinginkan pada bilah keris dengan menggunakan potongan jeruk nipis (proses ini tidak boleh terlalu lama) setelah itu disiram lagi dengan air yang mengalir dan selanjutnya bilah keris ditiriskan hingga kering.

Proses mewarangi keris yang paling baik dilakukan pada pagi menjelang siang hari. Sehingga ada proses penyinaran matahari yang bisa memaksimalkan hasil dari proses pewarangan. Setelah bilah keris benar-benar kering langkah selanjutnya bilah keris biasanya diolesi dengan minyak pusaka. Untuk minyak pusaka ada beberapa jenis, biasanya penulis menggunakan minyak parafin yang dicampur dengan bibit minyak wangi. Bibit minyak wangi sangat banyak jenisnya, itu semua tergantung pada selera pemilik keris.

Dengan melalui proses pewarangan, maka bentuk atau motif pamor akan terlihat. Bahan pamor keris ada 3 jenis yaitu :

  1. Batu Meteor, mempunyai ciri khas warnanya putih bercahaya dengan rabaan yang tajam.
  2. Besi Nikel, mempunyai ciri khas warnanya tidak bercahaya putih melainkan pudar kekuning-kuningan.
  3. Besi Penawang, yaitu besi lunak yang berwarna putih, memiliki kesan perabaan yang halus dan berwana putih pudar.
  4. Walaupun bahan pamor itu berbeda-beda jenisnya namun ada satu kesamaan yaitu bahwa ketiga bahan itu tidak bisa berkarat dan memiliki tingkat warna yang berbeda dengan bahan besi atau baja sebagai bahan pembuatan keris. Dan bahan pamor terbaik ialah bahan yang berasal dari batu meteor, karena mengandung unsur titanium yang sangat tinggi.

Selain bahan pamor yang bermacam-macam, warangan juga ada beberapa jenis yaitu :

  1. Warangan alami, berasal dari Cina. Warangan ini diduga yang paling baik, memiliki warna jingga kemerah-merahan, dan ada semacam alur-alur garis tipis dan lembut berwarna merah seperti urat pada kristalnya. Jika digunakan sebagi bahan warangan maka akan menghasilkan tingkat kekontrasan yang sangat tinggi antara bahan pamor dengan bahan besi pada bilah keris sehingga menghasilkan kesan yang cemerlang pada pamor keris.
  2. Waragan atal, berasal dari Thailand. Warangan ini memiliki mutu yang kurang baik, warnanya kuning kotor, dengan beberapa bagian mendekati warna kuning delima atau coklat muda. Jika digunakan sebagai bahan warangan akan menghasilkan tingkat kekontrasan yang rendah antara bahan pamor dengan bahan besi pada bilah keris, sehingga bahan pamor terkesan kurang cemerlang.

Walaupun umumnya proses pewarangan untuk mengawetkan bilah keris agar tahan lama dan tidak berkarat, proses pewarangan juga untuk membedakan bahan bilah keris yaitu warna bahan pamor dan warna besi bilah keris. Sehingga dengan proses pewarangan motif pamor akan terlihat jelas. Namun pada jenis keris kelengan hal ini tidak berlaku, karena keris kelengan ialah jenis keris yang tidak memiliki motif pamor. Sehingga untuk jenis keris kelengan, proses pewarangan semata-mata untuk mengawetkan bilah keris.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


*